Pages

Selasa, 02 Oktober 2012

Novel "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" menyapa pembaca Arab

Meskipun terdapat kemiripan dengan Magdalena, namun novel Van Der Wijch punya tema cerita murni Indonesia.
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKV) karya pujangga dan ulama kesohor Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA, akan menyapa publik Arab dengan diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab untuk pertama kalinya di Kairo, Mesir.

Penerjemahan buku hikayat roman berlatar budaya Minang, Sumatera Barat, itu diwujudkan atas kerja sama antara Kantor Atase Pendidikan (Atdik) KBRI Kairo dan Pusat Studi Indonesia di Universitas Terusan Suez, Mesir.

Prof Dr Abdel Rahim Kurdi, guru besar sastra Arab pada Universitas Terusan Suez sebagai penyunting dan penerjemahannya dikoordinir oleh Ginanjar Sya`ban dari Kantor Atdik KBRI Kairo.

"Terjemahan dan penyuntingan novel roman Buya HAMKA itu telah rampung dan kini sedang dalam proses pencetakannya di Mesir," kata Atase Pendidikan KBRI Kairo Prof Dr Sangidu Asofa yang dikonfirmasi ANTARA Kairo, Sabtu (22/9).

Menurut Prof Sangidu, tujuan pengadaan novel Buya HAMKA versi Arab itu adalah untuk menambah khazanah literatur Indonesia pada Pusat Studi Indonesia di Universitas Terusan Suez, di samping sebagai salah satu upaya mempererat hubungan persahabatan RI-Mesir.

Guru besar Sastra Arab Modern pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Yogyakarta itu menjelaskan, buku Hamka ini merupakan langkah awal penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Arab.

"Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dipilih untuk langkah awal karena pemikiran Hamka di bidang kesusatraan dipengaruhi oleh buku-buku sastra Mesir, terutama pujangga Mustafa Lutfi Al Manfaluti," kata Prof Sangidu, yang juga dosen pasca sarjana Program Studi Agama dan Lintas Budaya Minat Kajian Timur Tengah, UGM itu.

Terkait penerbitan Buku Hamka versi Arab tersebut, baru-baru ini diadakan seminar kesusastraan di Universitas Elmenia (383 km selatan Kairo) atas kerja sama dengan KBRI Kairo.

Seminar tersebut membahas mengenai studi komparatif terhadap tiga novel klasik dan kontemporer, yaitu "Thauq El Hamamah (Untaian Kalung Merpati)", karya pujangga abad pertengahan, Ibnu Hazm (994-1064), Magdoulin (Magdalena) karya novelis Mesir Mustafa Lutfi Al Manfaluti (1877-1924) dan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijch karya HAMKA (1908-1981)".

Ketiga novel itu memiliki tema yang sama, yakni cinta dan kegetiran.

Seminar yang dibuka oleh Pembantu Rektor Universitas Elmenia bagian Akademik dan kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Kamil Nu`man dan dihadiri pula Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi itu tampil pembicara lima pakar sastra Arab dari Mesir yaitu Prof Dr Abdel Mouneim, Prof Dr Ahmad Arif Hajazi, Prof Dr Hafedz Al Maghrabi, Prof. Dr. Munir Fauzi dan Prof. Dr. Said Thawwab, di samping Prof Sangidu dari Indonesia.

Universitas Elmenia dikenal rutin mengadakan pelatihan dan seminar internasional yang beberapa seminar sebelumnya dihadiri dosen-dosen terkait dari UGM, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Saling Pengaruhi

Dalam kajiannya, para narasumber tersebut berkesimpulan bahwa semua penulis dan sastrawan dari masa ke masa saling mempengaruhi dalam pemikiran, meskipun pada akhirnya masing-masing penulis memiliki gaya bahasa dan ciri khas tersendiri.

Menyinggung polemik yang pernah merebak di Indonesia menyangkut tuduhan adanya "plagiat" yang dilakukan HAMKA dari novel Magdoulin karangan Al Manfaluti, Prof Sangidu menepis tudingan itu.

"Sesungguhnya bukan plagiat, tapi yang benar adalah Buya HAMKA terinspirasi dari Al Manfaluti, dan beliau (Buya HAMKA) mengakui telah banyak membaca buku-buku pujangga Mesir itu," katanya.

"Sebetulnya memang terjadi intertekstualitas yang dalam bahasa Arabnya `ta`tsir wa ta`atsur` atau saling mempengaruhi. Artinya HAMKA terpengaruh pemikiran Al Manfaluti, tapi sama sekali bukan plagiasi," ujar Prof Sangidu.

Novel Magdalena yang dalam bahasa Arabnya "Magdalain Aw Tahta Dhilaliz Zenfon (Magdalena Atau Di Bawah Naungan Pohon Linden) merupakan saduran dari buku Sous les Tilleuls karya novelis Prancis Jean-Baptiste Alphonse Karr (1808-1890).

Dari segi isi, novel Magdalena berlatar budaya Barat dan tokoh-tokohnya pun bukan nama-nama Barat bukan Arab, seperti Adward, Stevan, dan ayah Magdalena bernama Muller.

Namun, alur cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sangat kental berlatar budaya Minang, ranah tempat HAMKA lahir dan dibesarkan.

Tuduhan plagiasi itu pertama kali muncul pada 1962 lewat tulisan Abdullah SP di koran Bintang Timur dalam rubrik Lentera yang dipimpin Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Abdullah SP, yang oleh beberapa kalangan disinyalir sebagai nama samaran dari Pramoedya, tanpa tedeng aling-aling menohok HAMKA dengan judul tulisannya "Aku Mendakwa HAMKA Plagiat".

Tuduhan itu pun tak pelak lagi menimbulkan dua kubu pro dan kontra.

Di satu pihak, Bintang Timur yang berhaluan Komunis dan di pihak lain, HAMKA yang ulama dan pegiat politik Islam.

HAMKA sendiri tidak bersuara menghadapi tuduhan itu, namun sastrawan kaliber HB Jassin (1917-2000) dan beberapa kawannya tampil membela HAMKA.

Pembelaan itu dihadang tanpa ampun oleh Lentera Bintang Timur dengan memuat secara bersambung buku Magdalena terjemahan Indonesia.

Polemik hebat itu berlangsung empat tahun dari 1962 hingga berakhir pada 1964 setelah penguasa Jakarta melarang Bintang Timur memuat polemik itu lagi karena dianggap mengancam stabiltas keamanan.

Saat pelarangan itu HAMKA sedang dijebloskan dalam penjara tanpa pengadilan oleh penguasa Orde Lama atas tuduhan persekongkolan upaya menggulingkan rezim Soekarno.

Anehnya, ketika HAMKA dinobatkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional pada 2011, sebuah buku terbit dengan judul seperti tulisan di Bindang Timur, "Saya Mendakwa HAMKA Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 oleh Muhidin M Dahlan.

Alhasil, terlepas dari polemik itu, "Kapal Van Der Wijck" masih belum tenggelam, ia tetap enak dibaca dan terus dicetak ulang.

Hingga 2007, novel itu telah lebih 30 kali cetak ulang oleh penerbit Bulan Bintang.

Ini berbeda dengan novel Magdalena, yang kendati telah dialih-bahasakan ke Indonesia dalam sedikitnya tiga versi yang berbeda, namun tidak punya pasar Nusantara ini.

"Meskipun terdapat kemiripan dengan Magdalena, namun novel Van Der Wijck punya tema cerita murni Indonesia," kata kritikus sastra dari Leiden, Belanda, A. Teeuw (1921- 18 Mei 2012).  (M043/Z002) Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Membrane di bawah bulan purnama KapatBulan purnama lagi mejeng dengan sangat menornya di atas langit ladang penggaraman yang luas di selatan Sampang, ...

Resensi: pemaknaan dan sisi ringan wartawan berhaji Buku tentang perjalanan menunaikan ibadah haji sudah banyak ditulis. Salah satu yang fenomenal adalah yang ditulis ...


View the original article here

IIMS yang minim jejak mobil pro-lingkungan

Salah satu kendaraan ramah lingkungan di IIMS 2012, Toyota Prius (ANTARA News/Imansyah)

Kendala pengembangan mobil listrik yaitu kapasitas baterai terbatas, ukuran besar, dan bobot baterai."
Jakarta (ANTARA News) - Deret demi deret, mobil-mobil berwarna-warni dengan kapasitas mesin mulai 300 cc hingga lebih dari 6000 cc hadir menggoda mata penggemar otomotif di Jakarta International Expo, Kemayoran sejak Kamis (20/9).

Kendaraan beroda empat hingga beroda 12 tersaji di empat hall plus arena pameran terbuka Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012 bagi calon pembeli atau pengunjung yang sekedar mencari hiburan.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kembali menggelar hajatan bertaraf internasional itu dengan mengundang sekitar 275 perusahaan termasuk 25 merek mobil penumpang dan 10 merek mobil berat atau komersial.

Penyelenggara IIMS ke-20 itu menyatakan konsisten mengusung tema teknologi ramah lingkungan dengan slogan pameran "Eco-Mobility" yang dianggap mampu mempromosikan mobilitas dan aksesibilitas ramah lingkungan.

Tema ramah lingkungan yang diusung penyelenggara IIMS 2012 agaknya tidak merujuk pada mobil-mobil berbahan bakar atau sumber energi alternatif.

Hal itu terbukti dari sekitar 25 merek mobil penumpang yang dipamerkan di hall A hingga hall D hanya lima merek yang membawa mobil untuk jual ataupun mobil konsep bersumber energi alternatif--atau mengandung sumber energi alternatif.

Sementara, 20 merek sisanya hanya menampilkan mobil-mobil yang "layak" jual. Layak jual dapat didasarkan harga yang diklaim "terjangkau", daya angkut penumpang, kemampuan mesin, aksesoris maupun teknologi pendukung.

Manajer Public Relation Toyota Astra Motor, Rouli Sijabat, mengatakan permintaan pasar otomotif Indonesia akan mobil-mobil berbahan bakar alternatif, seperti mobil bertenaga listrik, sudah banyak.

"Kendala pengembangan mobil listrik yaitu kapasitas baterai terbatas, ukuran besar, dan bobot baterai," kata Rouli tentang kesenjangan lonjakan permintaan pasar dengan penawaran dari industri otomotif.

Rouli mengatakan ketersediaan infrastruktur bagi kendaraan bertenaga listrik seperti stasiun pengisian listrik juga menjadi hambatan perkembangan mobil bertenaga alternatif.

"Itu (Prius Plug-in Hybrid) kami bawa dari Jepang dan belum dijual ke pasar (Indonesia)," kata Rouli.

Prius Plug-in, menurut Rouli, merupakan mobil bertenaga ganda (Hybrid) yang masih mengkonsumsi bahan bakar minyak dan menggabungkannya dengan motor listrik.

Rouli mengatakan baterai lithium-ion Prius Plug-in dapat diisi ulang dengan daya listrik rumah tangga ketika mobil berhenti selama kurang lebih enam jam.

Masih di hall D IIMS 2012, Nissan menyuguhkan pula mobil konsep--untuk pasar Indonesia--yang sepenuhnya bertenaga listrik, Nissan Leaf.

Mobil yang digadang-gadang bebas emisi itu mempunyai kapasitas baterai 80 kilowatt atau setara 107 Hp itu pun hanya berperan sebagai barang pamer pabrikan asal Jepang itu.

Wakil Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia, Teddy Irawan, sebagaimana Rouli dari Toyota, menyatakan infrastruktur masih menjadi hambatan pengembangan mobil bertenaga listrik di Indonesia.

"Kalau semua pabrikan sudah produksi, harganya (mobil listrik) semestinya akan turun," kata Teddy.

Di samping stan Nissan, Honda membawa mobil hybrid--sekaligus sport--pertamanya di Indonesia melalui CR-Z yang bermesin i-VTEC dan integrated motor assist (IMA).

Baterai bertenaga 10 kilowatt (14 PS) di Honda CR-Z akan menyimpan energi kinetik untuk disalurkan guna mendukung kinerja mesin bahan bakar minyak yang mempunyai tenaga 132 kilowatt (179 PS).

"Baterainya tahan hingga 15 tahun atau jarak 240 ribu kilometer," kata Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy.

Sementara di hall A, Astra Daihatsu Motor (ADM) membawa mobil Fuel Cell Showcase Concept yang berbahan bakar campuran nitrogen dan hidrogen, Hidrazin Hidrat.

Mobil berwarna putih kombinasi kaca hitam dan berbentuk kotak persegi itu diklaim nol emisi gas buang CO2 dan punya jarak tempuh yang lebih jauh dibanding teknologi 'fuel cell'.

Mobil Fuel Cell menyimpan bahan bakarnya di unit sel bahan bakar cair bebas logam (PMfLFC) serta baterai lithium-ion di bawah kabin berkapasitas empat orang.

Di arena pameran luar ruang, Tata Motors Indonesia memboyong dua mobil penumpang yang menggunakan bahan bakar gas alam kompresi (CNG), Tata Nano dan Tata Ace.

Tata Nano CNG dengan emisi gas buang CO2 sebesar 92,7 gram/kilometer diklaim tetap irit konsumsi bahan bakar gas (BBG) yaitu 25,4 kilometer per liter.

Mobil seberat 1700 kilogram itu mempunyai kapasitas tangki BBG sebanyak 70 liter dan tenaga 15,5 kilowatt.

Sayangnya, sejumlah perusahaan mobil penumpang tidak tampak menunjukkan karya ramah lingkungan mereka dan justru mengutamakan kendaraan-kendaraan yang lebih komersial meskipun mereka mempunyai tipe-tipe mobil berbahan bakar atau energi alternatif.

Sebut saja, General Motors Chevrolet yang tidak menghadirkan Chevrolet Volt, Mitsubishi Motor yang tidak memabawa MiEV (Mitsubishi In-wheel motor Electric Vehicle), atau Smart dari pabrikan Mercedes-Benz yang tidak memamerkan mobil elektriknya.

IIMS 2012 malah agaknya menyembunyikan mobil konsep karya anak bangsa yang berorientasi bahan bakar alternatif yaitu Arjuna-Keris 4 ciptaan tim Shell eco-marathon Universitas Indonesia 2012.

Arjuna-Keris 4 menggunakan motor penggerak dari baterai litium polimer 48 volt dengan konsumsi listrik 150 km/kwh.

Namun, mobil seberat 70 kilogram dengan dimensi 2700 x 910 x 816 milimeter itu terletak di hall semi-permanen B yang berada di arena belakang pameran sehingga tidak mudah dijumpai pengunjung.

Kehadiran mobil-mobil berbahan bakar atau sumber energi alternatif yang minim di IIMS 2012 tampaknya kurang menampilkan, "semangat memprioritaskan cara hidup yang mengutamakan kegiatan ramah lingkungan serta konservasi energi."

Asumsi itu tentunya berlaku manakala asosiasi pengunjung tentang tema ramah lingkungan adalah penggunaan bahan bakar alternatif atau sumber energi alternatif di kendaraan yang akan mereka gunakan.

Jargon ramah lingkungan--mungkin saja--hanya menjadi rangkaian kata yang "memodifikasi" barang-barang hingga tampak bermakna, setidaknya bagi dalih pertumbuhan industri. (I026) Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Membrane di bawah bulan purnama KapatBulan purnama lagi mejeng dengan sangat menornya di atas langit ladang penggaraman yang luas di selatan Sampang, ...

Satu pukulan Lino untuk 130 tahun Inilah bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Kata-kata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, ...


View the original article here

Diplomasi poco-poco di negeri "K-pop"

(ANTARA)

Industri kreatif Indonesia itu yang penting adalah membidik pasar lokal."
Bandung (ANTARA News) - Hampir tengah malam ketika itu, saat lagu "Poco-poco" seketika membuat orang-orang yang masih memenuhi ruang pertemuan di satu hotel di Tokyo menata barisan untuk menari.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, yang menjadi tuan rumah hajatan di hotel itu, turut berpoco-poco bersama sejumlah pelaku usaha wisata Jepang.

Tarian di malam di tengah bulan September itu merupakan akhir dari perjalanan Mari ke Jepang dan awal langkahnya ke Korsel untuk menjalin kerja sama pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif.

Selama seminggu kunjungannya ke negeri J-Pop dan K-Pop itu, Mari membawa sejumlah pejabat di kementerian yang dia pimpin dan beberapa swasta bidang ekonomi kreatif.

Mereka bertemu dengan banyak pihak, baik di Jepang maupun Korsel. Pembicaraan mereka juga "bejibun".

Peluang kerja sama mengembangkan ekonomi kreatif tampak lebih mendominasi kegiatan Mari di dua negara itu.

Sebagai negara yang baru menjadikan ekonomi kreatif menjadi garapan pokok pemerintah, begitu berulang kali Mari menyebut tujuannya saat bertemu dengan pimpinan instansi pemerintah maupun pihak swasta.

"Pertanyaan Ibu Menteri tajam-tajam," kata Ketua Lembaga Perfilman Korsel (Kofic) Kim Eui-Suk, lembaga ekonomi kreatif Korsel, Hong Sang Pyo.

"Tapi tak setajam anggota parlemen kan?" kata Mari.

Menurut Hong, pendekatan dengan anggota parlemen merupakan salah satu kunci yang harus terus-menerus dibina agar semua rencana bisa dijalankan.

Kofic merupakan lembaga perfilman Jepang yang menjadi sasaran Mari untuk diajak bekerja sama.

Dari lembaga itu, Mari dan jajarannya menggali info bagi kepentingan pendirian Badan Film Nasional (BFN).

Kofic merupakan lembaga yang didirikan pada 1973 yang pekerjaannya meliputi dukungan bagi pembuatan film, menyiapkan dana bagi industri film, pendirian sekolah film, membantu pengembangan dan pengadaan teknologi perfilman, dan penyediaan studio alam yang biasa disewa.

Kofic membantu teater kecil, termasuk memperbaiki fasilitas gedung teater.

Kofic juga membantu 30 persen biaya pembuatan film bagi rencana film yang terpilih oleh anggota komisi.

Mari secara khusus mengundang Ketua Kofic untuk ke Jakarta beberapa hari untuk berdiskisi tentang pendirian BFI.

Badan Kreatif
Salah satu kunjungan Mari dan jajarannya adalah ke Badan Konten Kreatif Koresl (Kocca). Lembaga itulah yang memberikan inspirasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membentuk institusi kreatif dalam kabinetnya.

Sepulang dari kunjungan ke Kocca pada 2006, Mari diberi pekerjaan rumah soal ekonomi kreatif dan dirinya sempat berpikir untuk membentuk badan seperti Kocca.

"Di luar dugaan, Presiden membentuk badan itu sebagai kementerian delapan bulan lalu," kata Mari kepada Ketua Kocca.

Kocca pada pada intinya adalah lembaga yang mencari bakat kreatif dari tengah masyarakat Korsel. Lembaga ini yang berperan besar dalam menelurkan sinetron Korea hingga K-Pop yang gelombangnya juga menerjang Indonesia.

Kocca juga berperan mempertemukan para kreator kepada industri yang akan menjual karya mereka. Secara rutin juga mengundang investor untuk melihat hasil kreasi baru.

Lembaga itu setiap tahun mengadakan lomba penulisan naskah berhadiah total 450 juta won atau sekitar Rp450 miliar. Biasanya kegiatan itu diikuti hingga 1.500 peserta.

Pemenang utama akan mendapatkan hadiah sebesar sejuta won dan bersama belasan pemenang lainnya mendapat ruang khusus di kantor Kocca sebagai tempat mereka berkreasi.

Hasil kreasi mereka kemudian diseleksi dan uang terpilih akan mendapat hadiah 500 juta won atau Rp 5 miliar sebagai biaya produksi naskah mereka menjadi produk film.

"Persaingannya sangat ketat," kata Ketua Kocca Hong Sang Pyo.

Dalam pembicaraan di Kocca, Mari secara khusus menyoroti peluang kerja sama pengembangan animasi dan game lokal.

Menurut dia, diperkirakan 30 juta orang muda Indonesia bermain game.

"Industri kreatif Indonesia itu yang penting adalah membidik pasar lokal," katanya.

Animasi yang ada di Indonesia saat ini sebesar 90 persennya adalah impor dan belum ada karakter lokal di dalamnya. Masalah ini yang menurut Mari merupakan tantangan dan peluang yang bisa dikerjasamakan dengan Kocca.

Untuk itu, katanya, dia juga membawa swasta pelaku industri animasi Indonesia ke Korea agar bisa langsung menjajagi kerja sama.

Peluang pun muncul ketika Ketua Kocca menyatakan, pihaknya siap menjembatani animasi Indonesia, terutama UKM animasi.

Dalam kunjungannya ke Korea, rombongan Mari juga mengunjungi studio Wonder World. Industri kecil yang beroperasi di kawasan ruko di kawasan Gangnam itu merupakan industri kreatif penghasil animasi yang sudah dipercaya Hollywood dan sejumlah negara sebagai rekanan kerja sama.

Wonder World bekerja sama dengan Meksiko dalam menghasilkan film 3D berjudul "Jungle Shhluffle" yang akan dirilis pada 2014. Studio itu juga berperan dalam sejumlah animasi film Hollywood, seperi Robin Hood, I am Number Four, dan Land of Lost.

Studio itu berkembang secara bertahap. Sepuluh tahun lalu, studio itu merupakan tenaga "out sourching" yang kemudian secara perlahan bisa membuktikan diri sebagai pihak yang pantas diajak bekerja sama.

CEO Wonder World Young Ki Lee menyatakan, pengembangan animasi memerlukan pendidikan bidang animasi yang kuat dan bertahap. Insentif dari pemerintah juga sangat diperlukan perkembangan industri animasi.

Di studio itu pula, sejumlah anak Indonesia pernah magang berkat dukungan perusahaan animasi yang teegabung dalam Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (Ainaki).

Setelah kunjungannya ke sejumlah pihak di Jepang dan Korsel, Mari menyatakan bahwa industri kreatif nasional masih dalam tahap awal.

Menurut dia, pendidikan merupakan yang harus diperkuat untuk mendukung industri kreatif, terutama dalam bidang animasi.

"Saya akan bicarakan lagi dengan Menteri Pendidikan," katanya.

Secara luas, Mari juga akan membuka ruang kreatif yang dapat mendukung terciptanya ide kreatif.

Mari juga menyatakan akan menciptakan apresiasi kepada para kreator yang menghasilkan produk kreatif.

Bentuknya mulai apresiasi berupa kesempatan menikmati karya kreatif dengan menggelar pameran hingga mempertemukan pelaku industri kreatif dengan investor yang ujungnya bisa menyejahterakan mereka.

Mari menyatakan terus bergerak langkah demi langkah dalam mengembangkan ekonomi kreatif yang jenisnya begitu beragam.

Akankah langkah harmonis Mari saat berpoco-poco bisa terus menarik banyak pihak menari bersamanya membentuk ekonomi kreatif yang menghasilan gelombang I-Pop, seperti mimpi besarnya?

(s018/H-KWR) Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Membrane di bawah bulan purnama KapatBulan purnama lagi mejeng dengan sangat menornya di atas langit ladang penggaraman yang luas di selatan Sampang, ...


View the original article here

"Roh perajin" yang dihidupi candi Borobudur

....10 tahun terakhir saya menemukan diri bahwa roh hidup saya di kerajinan."
Magelang (ANTARA News) - Dua turis mancanegara secara tiba-tiba menghentikan laju sepeda kayuh yang dikendarai masing-masing di depan galeri kecil, tak jauh dari Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pemandunya pun kemudian menjelaskan tentang berbagai barang kerajinan yang dipajang di galeri itu yang didominasi polesan motif batik oleh perajin yang juga pemilik galeri bernama "BW Craft Borobudur" di Dusun Bumisegoro, Desa Borobudur, sekitar 300 meter barat daya pagar Taman Wisata Candi Borobudur.

"Bu Menteri juga pernah datang ke sini, tidak `ngasih` bantuan apa-apa, tetapi membeli beberapa macam kerajinan yang disukainya di tempat saya ini," kata perajin dan sekaligus pemilik "BW Craft Borobudur" itu, Basiyo (51).

Bu Menteri yang dimaksudnya adalah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Menteri itu pada akhir 2011 berkunjung ke galerinya yang seluas 21 meter persegi di bagian depan rumahnya di dusun setempat, saat meninjau pelaksanaan Program "Tilik Desa" yang dikembangkan pengelola kepariwisataan Candi Borobudur, PT Taman Wisata Candi Borobudur, bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan sektor itu di kawasan setempat.

Sejumlah barang kerajinan yang dibeli Menteri Mari Pangestu dari galeri itu, kata Basiyo yang suami Saropah (40) dengan dikarunia empat anak dan tiga cucu tersebut, antara lain satu set wayang punakawan terbuat dari kayu dengan motif batik, tas terbuat dari kain perca motif batik, dan topeng kayu dengan motif batik.

Bukan secara tiba-tiba, kalau Basiyo membuka usaha galeri yang sekaligus juga perajin berbagai barang cendera mata di kawasan pariwisata Candi Borobudur itu.

Apalagi, lelaki yang asal usulnya dari Bantul, Yogyakarta dan sejak usia 15 tahun mengadu nasib dengan berjualan cendera mata kepada wisatawan Candi Borobudur itu hanya berlatar belakang pendidikan formal hingga kelas V di satu sekolah dasar di desanya.

"Memang simbah dan orang tua saya berdarah perajin, pembatik di Bantul sana. Saya dulu pengasong di Keraton Yogyakarta tetapi kemudian umur 15 tahun sudah sampai Candi Borobudur menjual hiasan satwa yang diawetkan, saya bikin sendiri, ketika itu saya tinggal di rumah orang di Gopalan (satu kampung di Desa Borobudur, red.)," katanya.

Ia menyatakan diri memiliki garis keturunan "roh perajin" dan hingga saat ini bersama lainnya memanfaatkan potensi wisata Candi Borobudur sebagai bagian dari pelaku kepariwisataan.

Kepiawaian Basiyo berolah kerajinan cendera mata terus diasah melalui berbagai kesempatan pelatihan dan pameran kerajinan yang diikutinya di berbagai tempat, selama bertahun-tahun dengan fasilitasi antara lain PT TWCB, Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemerintah Kabupaten Magelang.

"Banyak pelatihan saya ikuti seperti tentang manajemen usaha kecil, akuntansi dasar, pembuatan proposal, pelatihan motivasi. Kalau pameran ada yang di Yogya itu sejak 2006 sampai tahun ini setiap tahun saya ikut dengan fasilitas dari TWCB, juga pameran di Pekan Raya Jakarta, dan di PRPP Semarang," katanya.

Selain itu, Basiyo hingga saat ini juga aktif di sejumlah organisasi pelaku wisata kawasan Candi Borobudur antara lain sebagai Wakil Ketua Forum Rembug Klaster Pariwisata Candi Borobudur, Ketua Paguyuban Pengrajin Bhumi Sambhara Borobudur, Ketua Rukun Tetangga Plasa Luar TWCB, dan anggota Tim Anti Kekerasan dan Kejahatan (Tanker) Candi Borobudur.

Produk kerajinannya hingga saat ini cukup beragam, menyesuaikan dengan pangsa pasar dan perkembangan kepariwisataan tak hanya di Candi Borobudur. Akan tetapi, Basiyo juga berjejaring dengan perajin produk cendera mata di daerah lainnya.

"Cendera mata kerajinan satwa yang diawetkan sudah lama tidak menarik lagi untuk pasar, sejak beberapa tahun terakhir saya fokus kepada produk kerajinan dengan motif batik," katanya.

Berbagai produk kerajinannya saat ini dengan mengutamakan sentuhan motif-motif batik, antara lain wayang Rama-Sinta berbahan kayu dengan harga eceran Rp125.000, tas ransel dan tas kendang dengan bahan baku kain perca, masing-masing seharga Rp50.000.

Topeng Rama-Sinta dari bahan kayu seharga Rp125.000, gantungan kunci berbentuk wayang punakawan dari bahan kayu seharga Rp8.000, karya punakawan dari bahan kayu dengan harga satu set (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) seharga Rp30.000, dan patung Roro Blonyo dari kayu seharga Rp185.000.

"Kalau untuk grosir tentunya harganya beda," kata Basiyo yang bahan baku produknya cendera mata selain dipasok dari beberapa tempat di kawasan Candi Borobudur juga dari sejumlah kota lainnya seperti Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan.

Ia juga mengaku memanfaatkan tawaran pinjaman modal usaha bernilai belasan juta hingga puluhan juta rupiah antara lain dari PT TWCB dan perbankan untuk mengembangkan usaha kerajinan cendera mata itu.

"Saya merasa termasuk rajin mengangsur pengembaliannya, kecuali saat Gunung Merapi meletus tahun 2010 yang berdampak terhadap wisata Candi Borobudur. Saya sempat tiga bulan tak mampu membayar angsuran, tetapi hal itu ternyata bisa dimaklumi dan toh akhirnya saya bisa melunasi dan mendapat pinjaman lagi," katanya.

Usaha kerajinan Basiyo nampak terus berkembang sehingga ia merekrut empat tetangganya untuk bekerja sebagai perajin dan pembatik produk kerajinannya dengan sistem borongan. Tiga mesin jahit, berbagai peralatan pertukangan, dan alat batik melengkapi usaha produksi kerajinan cendera mata di rumahnya.

Ia juga membawahi sekitar 15 pengasong dan enam pedagang lapak yang selalu memasarkan produk kerajinannya di kompleks TWCB. Ia juga memiliki satu lapak cendera mata di TWCB yang setiap hari dijaga isterinya.

Jaringan dengan para perajin di berbagai daerah dan objek wisata, dan bahkan hingga luar Pulau Jawa telah membuat usaha kerajinannya di sekitar Candi Borobudur terus hidup dan berkembang.

"Saat ini, saya merasakan bisa mengambil manfaat dari berbagai pameran dan pelatihan yang selama ini saya ikuti baik di Borobudur maupun di luar daerah. Dengan ikut pameran itu, bukan hanya memasarkan produk, tetapi saya menjadi punya banyak teman sesama perajin, bisa saling tukar barang untuk dijual di luar daerah," katanya.

Barang kerajinan yang dipajang di galerinya tidak hanya produknya, akan tetapi juga dipasok oleh perajin lain baik di sekitar Candi Borobudur maupun luar daerah seperti wayang kulit (Yogyakarta), patung Kepala Buddha dari bahan kuningan (Mojokerto), miniatur sepeda ontel dan becak (Juwono, Pati), cendera mata berbentuk kerajinan mahkota (Lampung), dan kentongan dari akar bambu (Magelang).

Pembeli barang kerajinannya pun bukan hanyak para wisatawan yang tertarik layanan Program "Tilik Desa" PT TWCB dan kemudian singgah di galerinya, tetapi juga masyarakat umum seperti mereka yang memiliki hajat perkawinan, maupun pesanan dari pelaku wisata di sejumlah objek lainnya di luar Candi Borobudur.

Setiap hari, rata-rata 5-10 wisatawan Candi Borobudur berkunjung ke galerinya baik memanfaatkan jasa dokar, sepeda ontel, maupun becak, sedangkan jika akhir pekan dan musim liburan seperti Lebaran, Tahun Baru, liburan sekolah, jumlah pengunjung galerinya baik wisatawan nusantara maupun domestik semakin meningkat.

"Belum lagi pesanan suvenir seperti untuk perkawinan dan keperluan lainnya. Kalau rata-rata omzet per bulan saat ini bisa Rp30 juta, keuntungan sekitar 10 persennya," katanya.

Ia mengaku bukan satu-satunya perajin dan sekaligus pengelola galeri kerajinan cendera mata di kawasan Candi Borobudur. Sejumlah nama perajin, produk khas cendera mata, dan lokasi usaha mereka di beberapa desa sekitar Candi Borobudur disebut Basiyo sebagai mitra antarpelaku kepariwisataan setempat.

Bahkan, ia mengharapkan warga dusunnya sendiri makin banyak yang kelak menjadi perajin cendera mata agar bisa saling melengkapi untuk memenuhi kepentingan pasar yang bukan hanya wisatawan Candi Borobudur tetapi juga sasaran pemasaran yang lebih luas dan beragam.

"`Nek jenenge regeng niku mboten namung setunggal tiyang, ning lak nggih kathah tiyang to`," katanya dalam Bahasa Jawa yang kira-kira artinya kalau yang namanya ramai itu tentu bukan oleh satu orang tetapi melibatkan banyak orang.

Ia menyatakan tidak setiap orang mampu berproses menjadikan diri perajin dengan jiwa wirausaha yang tahan banting, meskipun berdomisili di magnet kunjungan banyak orang seperti Candi Borobudur.

Setelah bertahun-tahun menekuni perjalanan hidup dengan liku-liku sebagai pelaku wisata Candi Borobudur, barulah kemudian 10 tahun terakhir ini Basiyo menemukan bahwa dirinya terlahir sebagai perajin.

"Baru 10 tahun terakhir saya menemukan diri bahwa roh hidup saya di kerajinan. Dan Candi Borobudur adalah jalan keuntungan hidup saya sebagai perajin," katanya.

Tiba-tiba, siang sebelum azan zuhur itu, telepon seluler Basiyo berdering. Ia pun segera merogoh telepon dari saku kanan celananya dan kemudian berbicara dengan penelepon.

"Ya bisa.... pembatas buku 200 biji. Saya kirim paket saja lewat Pos. `Njenengan` (Anda, red.) kasih alamat saja... Ya seperti itu, harganya Rp6.500. Untuk 10 Oktober... `Njih` (Ya, red.) seperti sampelnya... bisa bisa," demikian Basiyo saat berbicara kepada si penelepon yang ternyata memesan salah satu produk kerajinan berupa pembatas halaman buku.

(M029) Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com


View the original article here

Klimaks Java Soulnation

Penyanyi dan pencipta lagu R&B asal Amerika Serikat, Robin Thicke, tampil menutup pagelaran LA Java Soulnation 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu, (30/9). (ANTARA/Teresia May)Jakarta (ANTARA News) - Festival musik Java Soulnation mencapai klimaks lewat penampilan deretan musisi pada hari terakhir pagelaran musik tersebut pada Minggu (30/9) di Istora Senayan, Jakarta.
Aksi James Morrison dan Robin Thicke di panggung utama menyempurnakan kemeriahaan malam itu. 
Penonton hampir tak berhenti berteriak menyaksikan James yang tampil atraktif. Lagu-lagu penyanyi asal Inggris itu seperti bisa mengalirkan energi kepada ribuan penonton yang mendengarkannya.
James yang tampil kasual dengan jin hitam serta kaus strip hijau dan balutan jaket kulit hitam menghentak panggung dengan lagu "Beautiful Life". Kemudian ia membuka jaket dan mengambil gitarnya untuk membawakan "This Boy".
Deretan lagu-lagu seperti "In My Dreams", "I Won't Let You Go", lagu duetnya dengan Nelly Furtado; "Broken Strings", "All Around The World", "Slave To The Music", "Nothing Ever Hurt", dan "Precious Love" kemudian mengalun.
Pria kelahiran 13 Agustus 1984 itu menghadirkan beragam rasa musik, dari pop rock, soul, hingga balada dengan suaranya yang khas.
James juga meramu "You Give Me Something," yang membuat namanya melejit di dunia musik, menjadi lebih meriah.
Penyanyi yang hingga kini sudah merilis tiga album itu menutup penampilannya secara memukau dengan membawakan lagu "Wonderful World" yang pernah menjadi hits di Inggris.
"Tentu saja saya ingin kembali lagi ke Indonesia," ujar penyanyi yang disebut-sebut memiliki paduan elemen vokal dari Stevie Wonder dan Van Morrison itu. 
Penampilan Robin Thicke pun tak kalah menarik. Suara penyanyi asal Los Angeles itu mampu menghipnotis ribuan penonton dan gerakannya memancing teriakan histeris penonton perempuan.
Anak musisi Gloria Loring dan Alan Thicke itu begitu luwes berkomunikasi dengan penonton. Ia juga membawa serta rapper yang menemaninya dalam lagu "Wanna Love You Girl" dan "Shooter."
Robin yang malam itu berkostum formal dengan blazer abu-abu membuat penonton makin terpukau saat memainkan piano pada beberapa lagu seperti "Pretty Little Heart", "Can You Believe", "Dream World", "dan "Sweetest  Love."
"Kadang kita begitu sibuk bekerja, sekolah, dan beraktifitas sampai tidak ada waktu untuk mencintai," kata suami Paula Patton itu sebelum menyanyikan lagu "I Need Love".
Dia menutup penampilannya dengan "Shakin' It" yang membuat penonton bergoyang.
Tak kalah seru
Penampilan musisi-musisi Indonesia pun tak kalah seru. Malam itu penonton bisa menikmati suara merdu Raisa, Ecoutez, Aditya, Project Orange (RAN dan HiVi), Project 9 (RAN dan Soulvibe), dan Matthew Sayersz.
Selain itu ada Bottlesmoker serta kolaborasi spesial "LA Lights Spesial Project" yang menyajikan duet dari Gecko dan Sandhy Sondoro, Joshua March dan Andien, The Bannery bersama Ras Mohammad, dan masih banyak lagi.
Malam itu juga menjadi spesial bagi Raisa yang mendapat Rekor MURI untuk project paduan suara rekaman digital dengan peserta terbanyak untuk lagu "Bagimu Negeri" dengan 2.287 video terkumpul hingga pukul 17.30 WIB pada Minggu (30/9).
Selain menyanyikan "Bagimu Negeri," Raisa membawakan beberapa lagu hits miliknya dan hasil aransemen ulang lagu Avril Lavigne berjudul "Complicated" dan lagu "Cemburu" dari Dewa.
Dan penampilan spektakuler Project 9 yang merupakan kolaborasi antara RAN dan Soulvibe mengakhiri kemeriahan Java Soulnation 2012 yang dimulai sejak Jumat (28/9).
(M047) Editor: Maryati
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Kesaktian Pancasila tak terdengar lagi

... Ketuhanan Yang Maha Esa, telah digantikan dengan Keuangan Yang Maha Kuasa...
Akan tetapi, pada Hari Kesaktian Pancasila, Senin ini, Letnan Jenderal (Purnawirawan) Sayidiman Suryohadiprojo galau di muka podium ketika didaulat rekan-rekannya sesama purnawirawan perwira tinggi untuk bicara soal kesaktian Pancasila. Raut mukanya yang sepuh (kini 86 tahun) menampilkan kesedihan itu.

"Saya sedih, dalam perjalanan dari rumah ke Taman Mini tadi, tidak ada bendera sepenuh tiang berkibar di rumah-rumah dan gedung yang saya lewati. Itu pertanda Pancasila bukan saja telah dilupakan, tetapi juga telah dilecehkan," katanya, geram.

Para tokoh yang tergabung dalam Gerakan Pemantapan Pancasila (GPP) itu antara lain mantan Wakil Presiden, Jenderal (Purnawirawan) Try Sutrisno, Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri, Saiful Sulun, dan mantan Menteri Dalam Negeri, Suryadi Sudirja.

Kesedihan yang sama juga disampaikan Sulun, yang jadi penyelenggara pertemuan yang mirip-mirip acara reuni itu. Menurut Saiful, dulu di zaman Orde Baru, Hari Kesaktian Pancasila diperingati secara nasional, tidak saja di Jakarta tetapi di seluruh daerah.


"Pancasila Sakti dulu bergema membahana," kenangnya akan masa-masa kejayaan rezim Soeharto.


Kini, kata Sulun, satu dua masih ada yang memperingati termasuk pemerintah, walau terkesan sekadar basa-basi.

"Kesaktian Pancasila tak terdengar lagi, bahkan Pancasila sudah dilupakan anak bangsa," katanya dengan suara yang masih terdengar lantang.

Mengapa para sesepuh bangsa itu masih memperingati Hari Kesaktian Pancasila padahal Pancasila sudah dilupakan dan tidak sakti lagi?


Dia mengatakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila itu tetap penting. Bukan untuk mendewa-dewakan Pancasila, tetapi untuk mengingatkan anak bangsa agar jangan melupakan dan meninggalkan Pancasila.


"Ingatlah bahwa sejarah telah membuktikan setiap kali bangsa ini lupa dan meninggalkan Pancasila negeri ini terguncang. Begitu pula setiap kali ada upaya untuk menyingkirkan atau mengganti Pancasila, rakyat menolak dan menentang," katanya.


Pancasila Masih Sakti


Tapi tidak semua peserta sarasehan setuju kalau Pancasila sudah menjadi sejarah dan mati. Harry Tjan Silalahi, salah satu pembicara, meyakini bahwa apapun yang terjadi Pancasila masih sakti.


Dia mengakui, kini dirasakan bangsa Indonesia masalah kekurangan tokoh. Banyak pemimpin partai maupun pemimpin pemerintahan, tetapi miskin ketokohan. Artinya, dirasakan kurang pribadi-pribadi yang berintegritas, tidak korup, memiliki kompetensi tertentu, dapat menjadi teladan secara moral maupun sosial, 0sehingga pantas disebut tokoh panutan.


"Justru rasa perasaan itu mendorong segenap eksponen bangsa untuk menziarahi kembali Pancasila sebagai cita-cita dan dasar serta raison d'etre keberadaan sebuah bangsa yang diberi nama bangsa Indonesia," kata pendiri CSIS, satu lembaga dapur pemikiran Orde Baru itu.


Ia sangat percaya nilai-nilai Pancasila yang dilihat sebagai keutuhan menjadi satu-satunya pedoman pada masa kini yang menjamin kebersamaan masyarakat Indonesia. Sekaligus juga menjadikan masyarakat memiliki pedoman untuk membina diri serta mencari bibit-bibit ketokohan yang ada dalam masyarakat. 

Tanpa pedoman ini bangsa Indonesia hanyalah menjadi kumpulan banyak suku bangsa yang rapuh tanpa pengikat kesatuannya.

Dia berargumen Pancasila masih sakti karena bukan hanya mempersatukan, tetapi menjadi memberi ruang bagi mimpi-mimpi sebagai bangsa. Pancasila menjadi perspektif dan optimisme bangsa sehingga mampu berdiri tegak memandang ke masa depan dengan aneka potensi yang dapat dipilih untuk diwujud-nyatakan baik sebagai individu maupun dalam kebersamaan dalam masyarakat.


Mantan Ketua PB NU, KH Hasyim Muzadi, juga menilai kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara sudah makin menjauh dari nilai-nilai Pancasila. Korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, anarki, narkoba, terorisme adalah akibat dari pengabaian Pancasila sebagai nilai-nilai luruh bangsa.


"Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, telah digantikan dengan Keuangan Yang Maha Kuasa," kata mantan calon wakil presiden itu. Muzadi memberi contoh betapa uang dan sistim transaksional berlaku dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah.


"Rakyat sudah faham betul apa itu serangan fajar, bahkan mereka sengaja menunggu kapan menjadi target serangan fajar itu," katanya, disambut tawa hadirin.


Politik uang, katanya, sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Untuk bisa mengatasinya, maka Pancasila harus digelorakan. Pancasila harus diwujudkan secara nyata, tidak bisa hanya dibicarakan. Tidak hanya sebagai slogan, tapi jadi kenyataan hidup.


"Kalau perlu dibentuk Front Penyelamat Pancasila," katanya disambut tepuk tangan hadirin.


Suryohadiprojo juga menyetujui gagasan menggelorakan kembali Pancasila itu. "Pemimpin nasional jangan hanya omong-omong saja soal Pancasila, tapi jadikanlah kenyataan yang hidup," katanya.


"Bukan cuma bicara-bicara, omong-omong, slogan-slogan," lanjut Sulun.


Sulun yang menutup acara saresehan sebagai Sekjen Gerakan Pemantapan Pancasila mengatakan bahwa negara yang didirikan oleh founding father itu adalah negara kebangsaan atas dasar Pancasila. Bukan atas dasar liberalisme, bukan komunisme, bukan pula atas dasar faham agama.


Bahwa sampai sat ini cita-cita merdeka belum terwujud, menurut Saiful, bukanlah salah Pancasila.


"Itu lebih dikarenakan oleh kesalahan kita sendiri terutama para pemimpin dan penyelenggara negara yang lupa bahkan khianat terhadap Pancasila," kata Sulun. (*)